pabrik mobil
Kabar Berita

Bukan Indonesia, Vietnam Justru Jadi Magnet Baru Investasi Asing

  • Mengapa investor global lebih memilih Vietnam dibanding Indonesia? Simak perbandingan regulasi, insentif, tenaga kerja, hingga kekuatan pasar domestik.
Kabar Berita
Redaksi Daerah

Redaksi Daerah

Author

JAKARTA – Kompetisi dalam memperebutkan investasi manufaktur global semakin sengit seiring perubahan rantai pasok dunia dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Di Asia Tenggara, Vietnam berkembang menjadi salah satu destinasi investasi yang sangat kompetitif dan dalam sejumlah faktor penilaian investor asing dinilai lebih unggul dibanding Indonesia.

Walaupun Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dengan jumlah penduduk lebih dari 275 juta orang serta cadangan sumber daya alam strategis seperti nikel, banyak perusahaan manufaktur berorientasi ekspor kini memilih Vietnam sebagai pusat produksi mereka.

BACA JUGA: Harga Pertamax dan BI Rate Naik, Apa Kabar Daya Beli WNI?

Mengapa Investor Global Memilih Vietnam?

Salah satu faktor utama yang membuat Vietnam unggul adalah kecepatan realisasi investasi. Proses pembangunan pabrik di negara tersebut dapat berlangsung lebih cepat karena sebagian besar waktu investasi difokuskan pada tahap konstruksi, bukan pengurusan izin.

Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang masih menghadapi tantangan birokrasi berlapis dan proses perizinan yang dinilai memakan waktu lebih lama.

Kemudahan berusaha juga menjadi faktor penentu. Dalam indikator Business Ready 2024 yang menggantikan metodologi Ease of Doing Business Bank Dunia, Vietnam memperoleh skor 65,47 poin, sedikit lebih tinggi dibanding Indonesia yang mencatatkan skor 63,72 poin.

Bagi investor, perbedaan tersebut mencerminkan efektivitas regulasi, efisiensi administrasi, dan kemudahan menjalankan usaha.

Baca juga : Rupiah-IHSG Ambrol, Perang Pecah Lagi, Harga Gadget hingga BBM Terancam

Kepastian Hukum

Investor asing umumnya mengutamakan kepastian hukum sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar. Vietnam dinilai berhasil menawarkan stabilitas regulasi yang lebih baik melalui sistem administrasi yang lebih terpusat dan mekanisme single window.

Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa perubahan kebijakan yang relatif sering terjadi, tumpang tindih kewenangan antarinstansi, serta implementasi aturan yang belum sepenuhnya konsisten di lapangan.

Kondisi tersebut membuat berbagai insentif investasi yang ditawarkan pemerintah kerap tidak sepenuhnya efektif dalam meningkatkan daya saing investasi.

Insentif Pajak Lebih Kompetitif

Daya tarik Vietnam juga terlihat dari kebijakan perpajakannya. Negara tersebut menawarkan tarif pajak penghasilan badan yang dapat turun hingga 10% selama 15 tahun untuk sektor-sektor prioritas tertentu, jauh di bawah tarif normal sebesar 20%.

Selain memberikan insentif yang menarik, prosedur pengajuannya juga dinilai lebih sederhana dan memiliki kepastian yang lebih tinggi dibanding sejumlah skema insentif yang tersedia di Indonesia.

Tenaga Kerja dan Teknologi Jadi Nilai Tambah

Vietnam berhasil menarik berbagai perusahaan teknologi global berkat ketersediaan tenaga kerja yang dinilai memiliki kemampuan teknis tinggi serta integrasi yang kuat dalam rantai pasok global.

Keberhasilan perusahaan seperti Apple memperluas jaringan pemasok di Vietnam menjadi salah satu indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap kualitas sumber daya manusia dan ekosistem manufaktur negara tersebut.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan penguasaan teknologi industri tingkat lanjut.

Modal Investasi Lebih Rendah

Keunggulan lain Vietnam terletak pada persyaratan modal investasi yang relatif lebih rendah. Proyek investasi asing di Vietnam dapat memperoleh persetujuan dengan modal awal sekitar US$100.000.

Sementara itu, Indonesia baru menurunkan ketentuan modal disetor minimum pada Oktober 2025 menjadi sekitar US$160.000, yang masih lebih tinggi dibanding Vietnam.

Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: Hanya Satu Saham yang Naik!

Didukung Jaringan Perdagangan Global

Akses pasar internasional menjadi faktor penting bagi perusahaan manufaktur yang berorientasi ekspor. Dalam hal ini, Vietnam memiliki posisi yang lebih kuat karena telah bergabung dalam sejumlah perjanjian perdagangan bebas strategis seperti CPTPP, EVFTA, dan RCEP.

Keanggotaan tersebut memungkinkan produk yang diproduksi di Vietnam memperoleh akses preferensial ke berbagai pasar utama dunia, termasuk Uni Eropa dan negara-negara kawasan Pasifik.

Indonesia memang turut bergabung dalam RCEP, namun cakupan perjanjian perdagangan bebas yang dimiliki masih relatif lebih terbatas dibanding Vietnam.

Strategi Investasi Jangka Panjang yang Konsisten

Vietnam juga dinilai berhasil memberikan sinyal kepastian kepada investor melalui implementasi Socio-Economic Development Strategy (SEDS) dan berbagai kebijakan penarik investasi asing yang memiliki arah jelas hingga 10–15 tahun ke depan.

Konsistensi kebijakan ini menjadi faktor penting karena investor manufaktur umumnya merencanakan investasi dengan horizon jangka panjang.

Deretan Perusahaan Global yang Memilih Vietnam

Keunggulan tersebut tercermin dari banyaknya perusahaan multinasional yang telah membangun fasilitas produksi di Vietnam.

Di sektor elektronik dan teknologi, Samsung menjadi investor asing terbesar dengan pusat riset senilai US$220 juta di Hanoi serta sejumlah pabrik besar di Bac Ninh. Selain Samsung, terdapat Canon, Brother Industries, Fujitsu, LG, Foxconn, hingga Coherent Corporation yang beroperasi di sektor semikonduktor.

Pada sektor barang konsumsi, LEGO membangun pabrik senilai US$1,3 miliar di Binh Duong yang menjadi fasilitas produksi netral karbon pertama perusahaan tersebut. Nike juga menjadikan Vietnam sebagai basis produksi utama dengan kontribusi lebih dari separuh produksi sepatu globalnya.

Sementara pada sektor otomotif dan komponen industri, sejumlah perusahaan seperti Nidec, THK, OSG, dan Vinakyoei Steel telah lama menjadikan Vietnam sebagai pusat manufaktur regional.

Indonesia Masih Punya Keunggulan

Indonesia memiliki keunggulan struktural yang sulit ditandingi, ukuran pasar domestik yang masif. PDB Indonesia pada 2024 mencapai Rp22.139 triliun dengan pertumbuhan 5,03 % secara tahunan, menjadikannya ekonomi terbesar di kawasan. 

Yang lebih menarik bagi investor, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 55 % dari total PDB Indonesia, dengan pertumbuhan yang tetap stabil.

Angka ini mencerminkan kedalaman pasar domestik yang menjadi daya pikat tersendiri bagi perusahaan yang ingin menjual langsung ke konsumen, bukan sekadar merakit produk untuk dikirim ke luar negeri. 

Indonesia juga punya kartu truf yang tidak dimiliki Vietnam, kekayaan sumber daya alam strategis, terutama nikel. Menurut data United States Geological Survey (USGS), Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, mencapai 55 juta ton atau setara 42,31 % dari total cadangan global, sekaligus menjadi produsen nikel terbesar dunia dengan produksi 2,2 juta ton sepanjang 2024. 

Posisi ini menjadi fondasi ambisi besar Indonesia dalam industri kendaraan listrik (EV). Realisasi investasi sektor hilirisasi pada triwulan III 2025 mencapai Rp150,6 triliun atau setara 30,6 % dari total investasi nasional, dengan nikel menjadi kontributor terbesar senilai Rp42 triliun. 

Sebagai bukti konkret, Indonesia bahkan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memproduksi sel baterai kendaraan listrik, melalui pabrik dengan kapasitas 10 GWh pada fase pertama yang mampu menghasilkan sekitar 150.000 kendaraan listrik. 

Baca juga : Berburu Iphone Terbaru Pakai Capital Gain BBCA, Ini Saatnya?

Penjualan kendaraan listrik domestik pun mulai bergerak signifikan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia menunjukkan penjualan mobil listrik berbasis baterai mencapai 56.204 unit pada 2024 dan melonjak menjadi 114.413 unit pada 2025, sinyal bahwa pasar dalam negeri mulai matang menyerap produk hilir dari nikel. 

Dari sisi nilai tambah industri, Indonesia pun tidak kalah. Pada 2023, Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai US$255,96 miliar, jauh di atas Thailand (US$128 miliar) dan Vietnam (US$102 miliar).

Kesimpulannya, pilihan lokasi investasi sangat ditentukan oleh orientasi bisnis perusahaan. Secara fundamental, kedua negara memiliki jalur berbeda, Vietnam mengandalkan integrasi global, sementara Indonesia membangun kekuatan dari dalam. 

Jika tujuan utamanya adalah efisiensi ekspor dengan kepastian regulasi tinggi, Vietnam saat ini menawarkan ekosistem yang lebih matang. Namun bagi perusahaan yang ingin menembus pasar konsumen terbesar di Asia Tenggara sekaligus membangun rantai nilai dari sumber daya alam strategis, Indonesia tetap menjadi salah satu destinasi investasi paling relevan di kawasan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Jun 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 12 Jun 2026